Langsung ke konten utama

Ribuan Pelari Mengikuti Ambarrukmo Volcano Run 2023, Berlari di Tengah Pesona Alam Jogja

 


Yogyakarta, dengan segala daya tarik alam dan budayanya, telah melahirkan berbagai kegiatan dan acara tahunan yang turut mengembangkan sektor pariwisata di wilayah tersebut. Salah satunya adalah Volcano Run, yang diinisiasi oleh berbagai pihak dengan tujuan memajukan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2019, komunitas Ubur-ubur Lari asal Yogyakarta menjadi pelopor dan penyelenggara acara Volcano Run yang pertama. Acara ini terus dilaksanakan setiap tahunnya untuk mengajak para pelari menikmati keindahan alam Kaliurang dan keagungan Gunung Merapi. Sayangnya, akibat pandemi, kegiatan lari ini terpaksa terhenti selama dua tahun.

Pada tahun 2023, Volcano Run kembali hadir dengan bekerja sama bersama Ambarrukmo Group Yogyakarta. Nama acara pun berubah menjadi Ambarrukmo Volcano Run. Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi semua pihak yang terlibat, termasuk dalam memajukan pariwisata di wilayah tersebut serta meningkatkan perekonomian masyarakat Yogyakarta terutama bagi mereka yang tinggal di Kaliurang, mengingat Ambarrukmo Volcano Run yang berlangsung pada 28 Mei ini berhasil mengajak 2.500 peserta untuk berlari bersama. 

Ajang ini mengadakan tiga kategori perlombaan. Pertama, kategori 5K dengan total elevasi 117 meter dan batas waktu 1,5 jam. Kategori ini terbuka untuk peserta yang berusia 8 tahun ke atas, sehingga cocok bagi pelari muda maupun keluarga yang ingin mengikutsertakan anak-anak dalam acara ini. Kedua, kategori 10K dengan total elevasi 216 meter dan batas waktu 2,5 jam. Dan terakhir, kategori 21K dengan total elevasi 467 meter dan batas waktu 4,5 jam. Start awal dimulai dari Museum Gunungapi Merapi, dengan kategori 21K yang akan dimulai pukul 05:45, diikuti oleh kategori 10K pukul 06:00, dan kategori 5K pukul 06:15. 


Sepanjang jalur Ambarukmo Volcano Run tidak hanya menantang, tetapi juga memukau. Ribuan peserta memulai lomba di kaki gunung berapi Ambarukmo. Jalur ini menawarkan pemandangan yang memukau dari lanskap sekitarnya, dengan pepohonan hijau yang rimbun dan pemandangan dari kawah gunung berapi yang sedang tidur. Di samping itu, peserta juga akan disuguhkan penampilan-penampilan kesenian dan sorak-sorai semangat oleh warga lokal di sepanjang jalan. Untuk biaya pendaftarannya sendiri, yaitu sebesar Rp250 ribu untuk kategori 5K, Rp350 ribu untuk 10K, dan Rp550 ribu untuk 21K. Biaya tersebut sudah termasuk nomor peserta (BIB), jersey, tote bag, sertifikat dan medali untuk peserta yang berhasil menyelesaikan lomba, serta voucher. Peserta kategori 21K juga akan mendapatkan jersey khusus untuk peserta yang berhasil menyelesaikan lomba.

Ambarukmo Volcano Run 2023 adalah acara yang menggabungkan sensasi berlari dengan keindahan gunung berapi Ambarukmo yang memukau. Dengan jalur lomba yang menantang, kategori yang beragam, dan keterlibatan masyarakat, acara ini menawarkan peserta pengalaman yang unik dan tak terlupakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Rekomendasi Makan Siang di Sekitar UNY, Jangan Lupa Mampir!

  Siang-siang di Jogja laper tapi bingung mau makan apa? Yuk sini mampir ke area UNY buat cobain 5 rekomendasi makan siang harga kantong mahasiswa tapi rasanya juara! 1. Ayam Geprek dan Susu (PREKSU) Ayam geprek dan susu (PREKSU) Jogja adalah sebuah makanan populer di daerah Yogyakarta yang terdiri dari ayam geprek yang dicampur dengan berbagai bumbu dan saus pedas, disajikan dengan nasi dan tambahan sayuran seperti timun dan kubis. Selain itu, menu ini juga dilengkapi dengan susu segar untuk memberikan senyuman dan kenyamanan setelah makan makanan pedas. PREKSU Jogja menjadi populer karena kelezatan dan keunikan rasanya yang cocok untuk orang yang suka makan makanan pedas. 2. Penyetan Bu Wid Salah satu pilihan utama mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam mencari makanan lezat adalah Penyetan Bu Wid, yang berlokasi di seberang Fakultas Ekonomi UNY. Sambal penyet khas dan tambahan kremes menjadi ciri khas dari ayam yang renyah ini dan disukai oleh banyak mahasiswa. Harg...

Fenomena Klitih Yang Merajalela Di Jogja

Istilah Klitih yang kini merujuk pada kejahatan jalanan tidak muncul begitu saja. Istilah ini awalnya memiliki arti positif dalam bahasa Jawa, yaitu jalan-jalan di waktu luang mencari udara segar di luar rumah. Namun, istilah Klitih berubah maknanya dan mengarah pada kejahatan jalanan yang menyerang orang secara tiba-tiba. Istilah ini mulai muncul di kalangan pelajar pada tahun sekitar 2008 atau 2009, yang kemudian menjadi populer pada tahun 2016. Awalnya, Klitih merupakan perilaku kenakalan remaja dan permusuhan antarkelompok. Namun seiring berjalannya waktu, fenomena Klitih mengalami pergeseran. Saat ini, kejahatan jalanan Klitih tidak hanya menyerang kelompok tertentu, tetapi juga menargetkan masyarakat umum secara acak.  Orang-orang di Yogyakarta mengidentifikasi pelaku yang bersepeda motor, bersenjata, dan melakukan kekerasan terhadap orang di jalan sebagai klitih. Setiap tahun, banyak orang menjadi korban kejahatan jalanan ini.  Anak muda yang melakukan aksi Klitih umumn...

Benteng Vredeburg: Simbol Sejarah dan Kebanggaan Yogyakarta

  Benteng Vredeburg Jogja, yang juga dikenal sebagai Museum Benteng Vredeburg, merupakan salah satu simbol sejarah yang penting di Kota Yogyakarta. Berlokasi di pusat kota, benteng ini menjadi daya tarik wisata yang populer bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang tertarik untuk mempelajari sejarah Indonesia, terutama perjuangan dalam mencapai kemerdekaan. Benteng Vredeburg awalnya didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1765. Awalnya, benteng ini berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk melindungi pusat pemerintahan kolonial dan perdagangan. Namun, pada era penjajahan Jepang, benteng ini juga digunakan sebagai penjara dan tempat interogasi terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia.  Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Benteng Vredeburg menjadi saksi bisu perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Selama revolusi kemerdekaan, benteng ini diambil alih oleh para pejuang dan digunakan sebagai markas untuk menyusun strategi d...