Langsung ke konten utama

Tongseng Bulus: Kuliner Ekstrem di Jogja, Berani Coba?

 


Yogyakarta dikenal sebagai salah satu surganya kuliner di Indonesia. Selain makanan khas seperti gudeg, bakpia, dan nasi kucing, Jogja juga menawarkan kuliner ekstrem yang menggugah selera dan menguji batas keberanian. Salah satu hidangan yang mencuri perhatian adalah tongseng bulus. Bulus sendiri merupakan hewan sejenis kura-kura namun memiliki cangkang yang lebih lunak. Olahan bulus dipilih karena memiliki beberapa khasiat untuk mengobati beberapa penyakit seperti asma dan sakit gigi, juga menguatkan tulang. 

Di Yogyakarta, ada beberapa rumah makan yang menyajikan tongseng bulus. Salah satu yang paling terkenal adalah Rumah Makan Mbak Yanti yang terletak di jalan Kranggan Kios No.1. Rumah makan ini telah beroperasi selama sekitar 15 tahun, mewarisi usaha dari kakeknya yakni Pak Ali.

Pembuatan tongseng bulus membutuhkan proses yang cukup rumit. Pertama, bulus yang segar harus dipilih dengan hati-hati dan dibersihkan secara menyeluruh. Setelah itu, bulus direndam dalam bumbu khusus yang terdiri dari campuran rempah-rempah, seperti serai, jahe, bawang merah, bawang putih, dan ketumbar, selama beberapa jam untuk meresapkan rasa. Setelah bulus direndam, bahan-bahan lain seperti tomat dan daun bawang ditambahkan ke dalam panci. Semua bahan tersebut dimasak dengan api kecil selama beberapa jam agar bumbu meresap dan daging bulus menjadi empuk.

Bumbu yang digunakan untuk tongseng bulus sebenarnya hampir sama dengan bumbu tongseng pada umumnya. Namun, yang membuatnya berbeda adalah tingkat kepedasannya yang dapat mengurangi bau amis dari daging bulus tersebut. Menu yang ditawarkan terdiri dari dua jenis, yaitu daging dan sirip bulus. Hidangan ini dimasak dengan bumbu rempah yang lezat. Rasa dan tekstur dagingnya mirip dengan daging kambing, sedangkan siripnya memiliki rasa seperti kikil sapi. Selain daging dan sirip, di rumah makan ini juga tersedia minyak bulus, hati, dan otak bulus.

Harga satu porsi tongseng bulus di Rumah Makan Mbak Yanti hanya Rp. 12.000, sedangkan harga satu porsi sate adalah Rp. 15.000 untuk lima tusuk. Terkadang, ada pembeli yang membeli tangkur bulus, yang harganya lebih mahal daripada dagingnya, yaitu Rp. 25.000. Setiap harinya, rumah makan ini dapat menggunakan satu atau dua ekor bulus. Daging bulus yang dijual diperoleh dari Pusat Penampungan dan Budidaya Bulus. Jika Anda ingin menikmati hidangan ini, bisa datang ke Rumah makan Mbak Yanti yang buka dari jam 10.00 pagi hingga 21.00 malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Rekomendasi Makan Siang di Sekitar UNY, Jangan Lupa Mampir!

  Siang-siang di Jogja laper tapi bingung mau makan apa? Yuk sini mampir ke area UNY buat cobain 5 rekomendasi makan siang harga kantong mahasiswa tapi rasanya juara! 1. Ayam Geprek dan Susu (PREKSU) Ayam geprek dan susu (PREKSU) Jogja adalah sebuah makanan populer di daerah Yogyakarta yang terdiri dari ayam geprek yang dicampur dengan berbagai bumbu dan saus pedas, disajikan dengan nasi dan tambahan sayuran seperti timun dan kubis. Selain itu, menu ini juga dilengkapi dengan susu segar untuk memberikan senyuman dan kenyamanan setelah makan makanan pedas. PREKSU Jogja menjadi populer karena kelezatan dan keunikan rasanya yang cocok untuk orang yang suka makan makanan pedas. 2. Penyetan Bu Wid Salah satu pilihan utama mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam mencari makanan lezat adalah Penyetan Bu Wid, yang berlokasi di seberang Fakultas Ekonomi UNY. Sambal penyet khas dan tambahan kremes menjadi ciri khas dari ayam yang renyah ini dan disukai oleh banyak mahasiswa. Harg...

Fenomena Klitih Yang Merajalela Di Jogja

Istilah Klitih yang kini merujuk pada kejahatan jalanan tidak muncul begitu saja. Istilah ini awalnya memiliki arti positif dalam bahasa Jawa, yaitu jalan-jalan di waktu luang mencari udara segar di luar rumah. Namun, istilah Klitih berubah maknanya dan mengarah pada kejahatan jalanan yang menyerang orang secara tiba-tiba. Istilah ini mulai muncul di kalangan pelajar pada tahun sekitar 2008 atau 2009, yang kemudian menjadi populer pada tahun 2016. Awalnya, Klitih merupakan perilaku kenakalan remaja dan permusuhan antarkelompok. Namun seiring berjalannya waktu, fenomena Klitih mengalami pergeseran. Saat ini, kejahatan jalanan Klitih tidak hanya menyerang kelompok tertentu, tetapi juga menargetkan masyarakat umum secara acak.  Orang-orang di Yogyakarta mengidentifikasi pelaku yang bersepeda motor, bersenjata, dan melakukan kekerasan terhadap orang di jalan sebagai klitih. Setiap tahun, banyak orang menjadi korban kejahatan jalanan ini.  Anak muda yang melakukan aksi Klitih umumn...

Benteng Vredeburg: Simbol Sejarah dan Kebanggaan Yogyakarta

  Benteng Vredeburg Jogja, yang juga dikenal sebagai Museum Benteng Vredeburg, merupakan salah satu simbol sejarah yang penting di Kota Yogyakarta. Berlokasi di pusat kota, benteng ini menjadi daya tarik wisata yang populer bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang tertarik untuk mempelajari sejarah Indonesia, terutama perjuangan dalam mencapai kemerdekaan. Benteng Vredeburg awalnya didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1765. Awalnya, benteng ini berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk melindungi pusat pemerintahan kolonial dan perdagangan. Namun, pada era penjajahan Jepang, benteng ini juga digunakan sebagai penjara dan tempat interogasi terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia.  Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Benteng Vredeburg menjadi saksi bisu perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Selama revolusi kemerdekaan, benteng ini diambil alih oleh para pejuang dan digunakan sebagai markas untuk menyusun strategi d...